Mairil Sepenggal Kisah Biru di Pesantren

Igama – Selama ini dunia pesantren dikenal sangat lekat dengan nuansa agama. Setiap pagi, siang, sore hingga malam hari kegiatan-kegiatan yang diajarkan di pesantren selalu berkaitan dengan (pendalaman) agama. Ngaji, tadarus, shalat berjamaah adalah beberapa kegiatan rutin di dalamnya.
Namun, siapa yang mengira di balik kentalnya nuansa agama yang ada di pesantren ternyata menyimpan cerita-cerita miris yang sangat bertentangan dengan (doktrin) agama? Buku dengan judul Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren yang ditulis oleh Syarifuddin ini mengungkap secara transparan perilaku-perilaku menyimpang di dunia pesantren, terutama yang berkaitan dengan penyimpangan seksual santri.


Ibarat lokalisasi, pesantren sering dijadikan tempat untuk menyalurkan hasrat libido santri pada santri lain. Bedanya, kalau di lokalisasi berlaku hukum pasar, yaitu terjadi transaksi antara penjual dan pembeli. Di pesantren kegiatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan umumnya dilakukan di tengah malam ketika “korban” sedang tertidur lelap.
Yang lebih mencengangkan, praktik seperti ini dilakukan antarsesama jenis kelamin (laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan). Seks antarsesama jenis kelamin inilah yang menjadi titik tekan buku ini. Di pesantren budaya ini bukanlah hal yang tabu, bahkan sudah mentradisi secara turun-temurun hingga kini. Sehingga sukar menghilangkan budaya itu karena sang pelaku dalam menjalankan aksinya sangat rapi, di luar pengetahuan orang lain.
Jangankan orang lain, kadang yang menjadi korban sendiri tidak menyadari kalau dirinya pernah dijadikan pelampiasan nafsu seks orang lain. Biasanya korban baru menyadari kalau dirinya telah menjadi pelampiasan seksual orang lain ketika bangun tidur. Karena hubungan seks ala pesantren bukan didasarkan suka sama suka tetapi secara sembunyi-sembunyi, ketika korban sudah terlelap.
Budaya itu kemudian dikenal dengan istilah nyempet dan mairil. Menurut penulis, nyempet merupakan jenis atau aktivitas pelampiasan seksual dengan kelamin sejenis yang dilakukan seseorang ketika hasrat seksualnya sedang memuncak, sedangkan mairil merupakan perilaku kasih sayang kepada seseorang yang sejenis (hlm. 25).
Perilaku nyempet terjadi secara insidental dan sesaat, sedangkan mairil relatif stabil dan intensitasnya panjang. Namun dalam banyak hal antara nyempet dan mairil mengandung konotasi negatif, yaitu sama-sama terlibat dalam hubungan seksual satu jenis kelamin.
Kondisi sosiologis dunia pesantren dengan pembinaan moral dan akhlak secara otomatis interaksi antara santri putra dan putri begitu ketat. Keseharian santri dalam komunitas sejenis, mulai bangun tidur, belajar, hingga tidur kembali. Santri bisa bertemu dengan orang lain jenis ketika sedang mendapat tamu. Itu pun jika masih ada hubungan keluarga.
Praktis, ketika ada di pesantren –terutama pesantren salaf (tradisional)– tidak ada kesempatan untuk bertemu dan bertutur sapa dengan santri beda kelamin.
Di samping tempat asrama putra dan putri berbeda, hukuman yang harus dijalankan begitu berat, bisa-bisa dikeluarkan dari pesantren, jika ada santri putra dan putri ketahuan bersama. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan perilaku nyempet di kalangan santri di pesantren begitu marak (hlm. 31).
Perilaku nyempet dan mairil biasnya dilakukan oleh santri tua (senior), tidak jarang pula para pengurus atau guru muda yang belum menikah. Dari hasil penelitian penulis, kegiatan nyempet hanya terjadi ketika masih menetap di pesantren tetapi ketika sudah lulus dari pesantren budaya seperti itu ditinggalkan.

Terbukti, kehidupan mereka normal dan tidak ditemukan kasus mereka menjadi homo atau lesbi. Mereka semua berkeluarga dan mempunyai anak. Karena orang yang melakukan itu hanya iseng bukan tergolong homoseksual (bagi kaum laki-laki) atau lesbian (bagi kaum wanita). Mereka melakukan penyimpangan seks itu sekadar menyalurkan libido seksualnya yang memuncak.
Umumnya yang menjadi korban nyempet dan mairil adalah santri yang memiliki wajah ganteng, tampan, imut, dan baby face. Hampir pasti santri (baru) yang memiliki wajah baby face selalu menjadi incaran dan rebutan santri-santri senior. Bahkan tidak jarang antara santri yang satu dan santri yang lain terlibat saling jotos, adu mulut, bertengkar (konflik) untuk mendapatkannya.
Di pesantren berlaku hukum tidak tertulis yang harus dijalankan bagi orang yang memiliki mairil. Misalnya jika si A sudah menjadi mairil orang, maka si mairil tersebut akan dimanja, diperhatikan, diberi uang jajan, uang makan, dicucikan pakainnya, dan sebagainya; layaknya sepasang kekasih (pacaran). Jika si mairil dekat dengan orang lain pasti orang yang merasa memiliki si mairil tersebut akan cemburu berat.
Kelebihan buku ini adalah penulis mampu menceritakan pelaku nyempet dan mairil dalam suasana santai, kocak, tetapi serius. Gaya penulisanya bertutur hampir menyerupai novel. Misalnya ketika penulis menceritakan tentang santri bernama Subadar yang akan nyempet santri lain.
Di beranda joglo masjid tanpa penerangan lampu, Subadar sambil berpura-pura tidur, terus merangsek mendekati santri yang masih kecil yang beberapa hari terakhir menjadi incarannya. “Harus bisa,” gumam Subadar dalam hati.
Namun naas nasibnya kali ini, baru saja mulai angkat sarung korban, tiba-tiba lampu beranda joglo dinyalakan petugas piket yang seketika itu membuat Subadar terkejut bukan kepalang…
Penulis buku ini tentu paham betul tentang budaya nyempet dan mairil yang ada di pesantren. Karena dia juga pernah mengenyam pendidikan di pesantren Wonorejo dan Jombang, Jawa Timur.
Boleh dikatakan buku ini adalah hasil temuannya langsung saat dia hidup di dunia pesantren selama kurang lebih enam tahun lamanya. Membaca buku ini kita akan terkejut dan mengernyitkan dahi, “Ah yang bener aja.”
Meski peristiwa yang diceritakan dalam buku ini lebih mengandalkan inprovisasi penulis, pembaca bisa melacak sendiri bahwa peristiwa seperti ini dalam dunia pesantren, terutama saat malam menjelang, benar adanya. Atau boleh jadi mereka yang pernah dibesarkan di pesantren akan tersenyum kecut atau mengakui dan menyangkal peristiwa kebenaran cerita ini. (Ditulis oleh Zamaahsari A. Ramzah, mahasiswa FISIPOL, Universitas Muhammdiyah Yogyakarta, alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo)

Penulis : Syarifuddin
Penerbit : P_Idea, Jogjakarta
Cetakan 1 : 2005
Tebal : viii + 254

Judul : Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren
More

MAIRIL BAB 1

Ibarat lokalisasi, pesantren sering dijadikan tempat untuk menyalurkan hasrat  libido santri pada santri lain. Bedanya, kalau di lokalisasi berlaku hukum pasar, yaitu terjadi transaksi antara penjual dan pembeli. Di pesantren kegiatan itu dilakukan secara sembunyi- sembunyi dan umumnya dilakukan di tengah malam ketika “korban” sedang tertidur lelap. Igama – Selama ini dunia pesantren dikenal sangat lekat dengan nuansa agama.

Setiap pagi, siang, sore hingga malam hari kegiatan-kegiatan yang diajarkan di pesantren selalu berkaitan dengan (pendalaman) agama. Ngaji, tadarus, shalat berjamaah adalah beberapa kegiatan rutin di dalamnya. Namun, siapa yang mengira di balik kentalnya nuansa agama yang ada di pesantren ternyata menyimpan cerita-cerita miris yang sangat bertentangan dengan (doktrin) agama? 

Buku dengan judul Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren yang ditulis oleh
Syarifuddin ini mengungkap secara transparan perilaku-perilaku menyimpang di dunia pesantren, terutama yang berkaitan dengan penyimpangan seksual santri. Ibarat lokalisasi, pesantren sering dijadikan tempat untuk menyalurkan hasrat libido santri pada santri lain . Bedanya, kalau di lokalisasi berlaku hukum pasar, yaitu terjadi transaksi antara penjual dan pembeli.

Di pesantren kegiatan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan umumnya dilakukan di tengah malam ketika “korban” sedang tertidur lelap. Yang lebih mencengangkan, praktik seperti ini dilakukan antarsesama jenis kelamin (laki- laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan)

Seks antar sesama jenis kelamin inilah yang menjadi titik tekan buku ini.
Di pesantren budaya ini bukanlah hal yang tabu, bahkan sudah mentradisi secara turun-temurun hingga kini. Sehingga sukar menghilangkan budaya itu karena sang pelaku dalam menjalankan aksinya sangat rapi, di luar pengetahuan orang lain.

Jangankan orang lain, kadang yang menjadi korban sendiri tidak menyadari kalau dirinya pernah dijadikan pelampiasan nafsu seks orang lain. Biasanya korban baru menyadari kalau dirinya telah menjadi pelampiasan seksual orang lain ketika bangun tidur. Karena hubungan seks ala pesantren bukan didasarkan suka sama suka tetapi secara sembunyi- sembunyi, ketika korban sudah terlelap.
Budaya itu kemudian dikenal dengan istilah nyempet dan mairil. Menurut penulis, nyempet merupakan jenis atau aktivitas pelampiasan seksual dengan kelamin sejenis yang dilakukan seseorang ketika hasrat seksualnya sedang memuncak, sedangkan mairil merupakan perilaku kasih sayang kepada seseorang yang sejenis (hlm. 25).
Perilaku nyempet terjadi secara insidental dan sesaat, sedangkan mairil relatif stabil dan intensitasnya panjang.

Namun dalam banyak hal antara nyempet dan mairil mengandung konotasi negatif, yaitu sama-sama terlibat dalam hubungan seksual satu jenis kelamin. Kondisi sosiologis dunia pesantren dengan pembinaan moral dan akhlak secara otomatis interaksi antara santri putra dan putri begitu ketat. Keseharian santri dalam komunitas sejenis, mulai bangun tidur, belajar, hingga tidur kembali. Santri bisa bertemu dengan orang lain jenis ketika sedang mendapat tamu. Itu pun jika masih ada hubungan keluarga. Praktis, ketika ada di pesantren –terutama pesantren salaf (tradisional)– tidak ada kesempatan untuk bertemu dan bertutur sapa dengan santri beda kelamin.

Di samping tempat asrama putra dan putri berbeda, hukuman yang harus dijalankan begitu berat, bisa-bisa dikeluarkan dari pesantren, jika ada santri putra dan putri ketahuan bersama. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan perilaku nyempet di kalangan santri di pesantren begitu marak (hlm. 31).
Perilaku nyempet dan mairil biasnya dilakukan oleh santri tua (senior), tidak jarang pula para pengurus atau guru muda yang belum menikah. Dari hasil penelitian penulis, kegiatan nyempet hanya terjadi ketika masih menetap di pesantren tetapi ketika sudah lulus dari pesantren budaya seperti itu ditinggalkan.
Terbukti, kehidupan mereka normal dan tidak ditemukan kasus mereka menjadi homo atau lesbi. 

Mereka semua berkeluarga dan mempunyai anak. Karena orang yang melakukan itu hanya iseng bukan tergolong homoseksual (bagi kaum laki-laki) atau lesbian (bagi kaum wanita). Mereka melakukan penyimpangan seks itu sekadar menyalurkan libido seksualnya yang memuncak.
Umumnya yang menjadi korban nyempet dan mairil adalah santri yang memiliki wajah ganteng, tampan, imut, dan baby face. Hampir pasti santri (baru) yang memiliki wajah baby face selalu menjadi incaran dan rebutan santri-santri senior.
Bahkan tidak jarang antara santri yang satu dan santri yang lain terlibat saling jotos, adu mulut,bertengkar (konflik) untuk mendapatkannya.

Di pesantren berlaku hukum tidak tertulis yang harus dijalankan bagi orang yang memiliki mairil. Misalnya jika si A sudah menjadi mairil orang, maka si mairil tersebut akan dimanja, diperhatikan, diberi uang jajan, uang makan, dicucikan pakainnya, dan sebagainya; layaknya sepasang kekasih (pacaran). Jika si mairil dekat dengan orang lain pasti orang yang merasa memiliki si mairil tersebut akan cemburu berat.
Kelebihan buku ini adalah penulis mampu menceritakan pelaku nyempet dan mairil dalam suasana santai, kocak, tetapi serius. Gaya penulisanya bertutur hampir menyerupai novel. Misalnya ketika penulis menceritakan tentang santri bernama Subadar yang akan nyempet santri lain.

Di beranda joglo masjid tanpa penerangan lampu, Subadar sambil berpura-pura tidur, terus merangsek mendekati santri yang masih kecil yang beberapa hari terakhir menjadi incarannya. “Harus bisa,” gumam Subadar dalam hati. Namun naas nasibnya kali ini, baru saja mulai angkat sarung korban, tiba-tiba lampu beranda joglo dinyalakan petugas piket yang seketika itu membuat Subadar terkejut bukan kepalang…


Penulis buku ini tentu paham betul tentang budaya nyempet dan mairil yang ada di pesantren. Karena dia juga pernah mengenyam pendidikan di pesantren Wonorejo dan Jombang, Jawa Timur. Boleh dikatakan buku ini adalah hasil temuannya langsung saat dia hidup di dunia pesantren selama kurang lebih enam tahun lamanya. Membaca buku ini kita akan terkejut dan mengernyitkan dahi, “Ah yang bener aja.” Meski peristiwa yang diceritakan dalam buku ini lebih mengandalkan inprovisasi penulis, pembaca bisa melacak sendiri bahwa peristiwa seperti ini dalam dunia pesantren, terutama saat malam menjelang, benar adanya. Atau boleh jadi mereka yang pernah dibesarkan di pesantren akan tersenyum kecut atau mengakui dan menyangkal peristiwa kebenaran cerita ini.
More

MAIRIL BAB 2

Para santri, lulusan pesantren serta orang-orang Islam di Indonesia, pasti banyak yang tahu tentang sodomi dan lesbi yang umum terjadi di pesantren, bisa tahu dari pengalaman pribadi, melihat sendiri, atau mendapat informasi dari orang lain.
Memang sodomi, lesbi, atau kekerasan seksual tidak pernah diajarkan di pesantren, bahkan Islam konon mengharamkan homoseksualitas, namun karena Al-Quran adalah kitab yang sangat multitafsir, beberapa ayatnya ada yang terkesan setuju dengan perilaku homoseksual, misalnya yang menguraikan tentang pelayan lelaki muda belia yang muda selamanya, yang melayani para mukmin di surga.


Istilah yang biasa digunakan kalangan pesantren untuk menyebut perilaku sodomi ialah mairil. Di media massa sering kita temukan berita sodomi, perkosaan, serta pelecehan seksual yang terjadi di pesantren-pesantren khusus putra maupun khusus putri, namun, perilaku sodomi, lesbi, atau kekerasan seksual di pesantren ibarat puncak sebuah gunung es, hanya sedikit puncaknya yang terlihat, sebagian besar tersembunyi dalam lautan.
Banyak kasus yang tidak dilaporkan, karena yang menjadi korbannya malu atau takut untuk menceritakannya. Selama ratusan tahun pesantren eksis di Indonesia, adalah hal wajar, bila sudah ribuan bahkan jutaan santri yang pernah melakukan atau menjadi korban sodomi, perkosaan, atau pelecehan seksual.

Di pesantren, para santri dalam jumlah besar tinggal di satu tempat, dan seringkali harus tidur berdesakan dan mandi bersama-sama sedangkan banyak santri yang sedang mengalami masa-masa pubertas. Sedangkan pesantren membatasi sangat ketat pergaulan antara santri putra dengan santri putri atau antara santri dengan orang luar.
Pembatasan interaksi dengan lawan jenis sembari berinteraksi secara intens dengan sesama jenis ini dapat berpotensi memicu santri yang tidak menemukan penyaluran untuk melakukan perilaku seksual yang menyimpang. Sangat mungkin dari ratusan santri, satu atau dua orang memang memiliki kelainan seksual, sehingga mereka dapat mempengaruhi dan merusak temannya.
Lagipula agama
Islam sering membahas masalah seksual dengan sangat detail, misalnya tentang mandi junub, dan sebagainya, sehingga bisa saja ada santri yang semakin terobsesi dengan seks.
Juga karena agama Islam lebih mengutamakan detail-detail ibadah seperti cara shalat yang benar, cara istinjak yang benar, bagaimana berjimak yang islami, dan sebagainya, sehingga kurang atau bahkan tidak memperhatikan penumbuhan moral para santrinya. 

Yang penting adalah perbuatan dilakukan sesuai dengan perintah Al-Quran sembari mencontoh perilaku nabi
Muhammad melalui Al-Hadith dan Sirah Nabi, bermoral atau tidak tidak perlu dipermasalahkan, misalnya menghalalkan darah yang menghina Islam, dan tindakan kekerasan lainnya yang dilakukan atas nama agama islam. Berbeda dengan agama

Kristen, Buddha atau lainnya, yang mengutamakan moral manusia dibanding ritual agama, mengutamakan kasih dan golden rule. Para santri yang pernah

melakukan mairil dan sebagainya, akhirnya setelah lulus ada yang menjadi tokoh masyarakat, pejabat negara, kyai dan sebagainya, mereka menikah dan mempunyai anak. Ada yang memimpin atau mendirikan pesantren. Karena itu, berita pencabulan dan kekerasan seksual yang dilakukan oleh kyai kepada para santrinya tidak terlalu mengagetkan, mungkin saja kyai tersebut dulunya adalah korban kekerasan seksual menyimpang, yang akhirnya malah menjadi pelaku, karena keenakan. 

Bahkan, Verry Idham Heryansyah alias Ryan juga pernah menjadi santri dari salah satu pesantren terkenal di Jombang. Memang, bukan hanya tokoh agama Islam saja, yang melakukan perbuatan cabul, pendeta Kristen dan pastor katolik pun ada yang berbuat cabul. Namun, bedanya, di dalam agama Kristen tidak ada ayat dalam kitab sucinya yang dapat dipakai untuk membenarkan perbuatan sesat mereka itu. Bahkan, secara jumlah, perbuatan cabul yang terekspos oleh media massa umumnya adalah yang dilakukan oleh guru ngaji, ulama dan kyai, kasus-kasus yang melibatkan pendeta dan pastor jauh lebih sedikit, di Indonesia maupun di luar negri.
More

Mensyukuri Nikmat Islam


Allah Azza wa Jalla berfirman: 
ﻦَﻤَﻓ ِﺩِﺮُﻳ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻥَﺃ ْﺡَﺮْﺸَﻳ ُﻪَﻳِﺪْﻬَﻳ 
ُﻩَﺭْﺪَﺻ ۖ ِﻡﺎَﻠْﺳِﺈْﻠِﻟ ﻦَﻣَﻭ ْﺩِﺮُﻳ ﻥَﺃ ُﻪَّﻠِﻀُﻳ 
ْﻞَﻌْﺠَﻳ ُﻩَﺭْﺪَﺻ ﺎًﻘِّﻴَﺿ ﺎًﺟَﺮَﺣ ﺎَﻤَّﻧَﺄَﻛ 
ُﺪَّﻌَّﺼَﻳ ﻲِﻓ ِﺀﺎَﻤَّﺴﻟﺍ ۚ ُﻞَﻌْﺠَﻳ َﻚِﻟَٰﺬَﻛ 
ُﻪَّﻠﻟﺍ َﺲْﺟِّﺮﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ﺎَﻟ َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻳ 

Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah 
(petunjuk), Dia akan 
membukakan dadanya untuk 
(menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan 
dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. 
Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.†[Al-An’aam: 
125] Allah Azza wa Jalla juga berfirman: 
َﺡَﺮَﺷ ﻦَﻣ ُﻪَّﻠﻟﺍ ُﻩَﺭْﺪَﺻ ِﻡﺎَﻠْﺳِﺈْﻠِﻟ َﻮُﻬَﻓ 
ٰﻰَﻠَﻋ ٍﺭﻮُﻧ ﻦِّﻣ ۚ ِﻪِّﺑَّﺭ ِﺔَﻴِﺳﺎَﻘْﻠِّﻟ ٌﻞْﻳَﻮَﻓ 
ﻢُﻬُﺑﻮُﻠُﻗ ﻦِّﻣ ِﺮْﻛِﺫ ِﻪَّﻠﻟﺍ ۚ َﻚِﺌَٰﻟﻭُﺃ ﻲِﻓ 
ٍﻝﺎَﻠَﺿ ٍﻦﻴِﺒُّﻣ 
“Maka apakah orang- orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Rabb- 
nya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.â 
[Az-Zumar: 22] 
Orang yang tidak mendapat hidayah akan senantiasa berada dalam kegelapan dan kerugian.

Bagaimana jika seandainya seseorang tidak diberi hidayah oleh Allah Azza wa Jalla? Maka pasti ia menderita dalam kekafirannya, hidupnya sengsara dan tidak tenteram, serta di akhirat akan disiksa dengan siksaan yang abadi [1] 
Allah Azza wa Jalla 
menunjuki hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang melalui Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Untuk itu, kewajiban kita adalah mengikuti, meneladani dan mentaati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam segala perilaku kehidupan kita, jika kita menginginkan hidup di bawah cahaya Islam. Allah Azza wa Jalla menyatakan bahwa Dia Azza wa Jalla telah memberikan karunia yang besar dengan diutusnya Nabi dan RasulNya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah Azza wa Jalla berfirman: 
ْﺪَﻘَﻟ َّﻦَﻣ ُﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ْﺫِﺇ 
َﺚَﻌَﺑ ْﻢِﻬﻴِﻓ ﺎًﻟﻮُﺳَﺭ ْﻦِّﻣ ْﻢِﻬِﺴُﻔﻧَﺃ 
ﻮُﻠْﺘَﻳ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ ِﻪِﺗﺎَﻳﺁ ْﻢِﻬﻴِّﻛَﺰُﻳَﻭ 
َﺏﺎَﺘِﻜْﻟﺍ ُﻢُﻬُﻤِّﻠَﻌُﻳَﻭ َﺔَﻤْﻜِﺤْﻟﺍَﻭ ﻥِﺇَﻭ 
ﺍﻮُﻧﺎَﻛ ﻦِﻣ ُﻞْﺒَﻗ ﻲِﻔَﻟ ٍﻝﺎَﻠَﺿ ٍﻦﻴِﺒُّﻣ 
“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur-an) dan Hikmah (As-Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar- benar dalam kesesatan yang nyata.†[Ali ‘Imran: 
164] Setiap muslim niscaya meyakini bahwasanya karunia Allah Azza wa Jallayang terbesardi dunia ini adalah agama Islam. Seorang muslim akan senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberinya petunjuk ke dalam Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad 
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagai karunia-Nya yang terbesar yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 
َﻡْﻮَﻴْﻟﺍ ُﺖْﻠَﻤْﻛَﺃ ْﻢُﻜَﻨﻳِﺩ ْﻢُﻜَﻟ ُﺖْﻤَﻤْﺗَﺃَﻭ 
ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻲِﺘَﻤْﻌِﻧ ُﺖﻴِﺿَﺭَﻭ ُﻢُﻜَﻟ 
َﻡﺎَﻠْﺳِﺈْﻟﺍ ﺎًﻨﻳِﺩ 
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.â€[Al- Maa-idah: 3] 
A.     Kewajiban Kita Atas Karunia yang Kita Terima Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Setiap muslim wajib bersyukur atas nikmat 

Islam yang telah diberikan Allah Azza wa Jalla kepadanya. Jika seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, maka ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Demikian juga jika 
manusia tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah 
Azza wa Jalla, maka dia adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih. 
ْﻢُﻛْﺮُﻛْﺫَﺃ ﻲِﻧﻭُﺮُﻛْﺫﺎَﻓ ﻲِﻟ ﺍﻭُﺮُﻜْﺷﺍَﻭ 
ﺎَﻟَﻭ ِﻥﻭُﺮُﻔْﻜَﺗ 
“Maka ingatlah kepada- Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah 
kamu ingkar kepada-Ku.†[Al-Baqarah: 152] Kewajiban apakah yang harus kita laksanakan kepada Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita? Jawabannya, karena Allah Azza wa Jalla telah memberikan karunia- Nya kepada kita dengan 
petunjuk ke dalam Islam, maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah denganberibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla secara ikhlas, mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam serta taat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya 

Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang dengan hal itu kita menjadi muslim yang benar. Oleh karena itu, agar menjadi seorang muslim yang benar, kita harus menuntut ilmu syar’i. Kita harus belajar agama Islam karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla dengan membawa keduanya. Allah Azza wa Jalla berfirman: 
ﻱِﺬَّﻟﺍ َﻮُﻫ َﻞَﺳْﺭَﺃ ٰﻯَﺪُﻬْﻟﺎِﺑ ُﻪَﻟﻮُﺳَﺭ 
ِﻦﻳِﺩَﻭ ِّﻖَﺤْﻟﺍ ُﻩَﺮِﻬْﻈُﻴِﻟ ﻰَﻠَﻋ ِﻦﻳِّﺪﻟﺍ 
ِﻪِّﻠُﻛ ْﻮَﻟَﻭ َﻩِﺮَﻛ َﻥﻮُﻛِﺮْﺸُﻤْﻟﺍ 
“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur-an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang- orang musyrik tidak menyukai.†[At-Taubah: 33] Allah Azza wa Jalla juga berfirman: 
ﻱِﺬَّﻟﺍ َﻮُﻫ َﻞَﺳْﺭَﺃ ٰﻯَﺪُﻬْﻟﺎِﺑ ُﻪَﻟﻮُﺳَﺭ 
ِﻦﻳِﺩَﻭ ِّﻖَﺤْﻟﺍ ُﻩَﺮِﻬْﻈُﻴِﻟ ﻰَﻠَﻋ ِﻦﻳِّﺪﻟﺍ 
ِﻪِّﻠُﻛ ۚ ٰﻰَﻔَﻛَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺎِﺑ ﺍًﺪﻴِﻬَﺷ 
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.â € [AlFat-h: 28] Juga lihat Ash-Shaaff ayat 9. Yang dimaksud dengan ﻯَﺪُﻬْﻟَﺍ (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat, dan ِّﻖَﺤْﻟﺍ ُﻦْﻳِﺩ (agama yang benar) adalah amal shalih. Allah Azza wa Jalla mengutus Nabi 
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebathilan, menjelaskan Nama-Nama Allah, Sifat-Sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, 
hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, serta memerintahkan semua yang 
bermanfaat bagi hati, ruh dan jasad. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah Azza wa Jalla, mencintai-Nya, 
berakhlak dengan akhlak yang mulia, beramal shalih dan beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang perbuatan syirik, amal dan akhlak buruk yang membahayakan hati dan badan juga dunia dan akhirat. [2] 

Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan menuntut ilmu syarâ €™i. Menuntut ilmu merupakan jalan yang lurus (ash Shirathal Mustaqim) untuk memahami antara yang haq dan yang bathil, antara yang ma’ruf dan yang mungkar, antara yang bermanfaat dan yang mudharat (membahayakan), dan menuntut ilmu akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. 


Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan ke-Islamannya tanpa memahami dan mengamalkannya. Pernyataannya itu haruslah dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam. Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi. Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syarâ €™i. 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam bersabda: 
ُﺐَﻠَﻃ ٌﺔَﻀْﻳِﺮَﻓ ِﻢْﻠِﻌْﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ِّﻞُﻛ 
ٍﻢِﻠْﺴُﻣ. 
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.†[3] Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga. 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
... َﻚَﻠَﺳ ْﻦَﻣ ﺎًﻘْﻳِﺮَﻃ ُﺲِﻤَﺘْﻠَﻳ ِﻪْﻴِﻓ 
ﺎًﻤْﻠِﻋ َﻞَّﻬَﺳ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪِﺑ ُﻪَﻟ ﺎًﻘْﻳِﺮَﻃ ﻰَﻟِﺇ 
ِﺔَّﻨَﺠْﻟﺍ. 
“...Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka 
Allah akan memudahkan dirinya dengannya jalan menuju Surga.†[4] 
B. Pentingnya Ilmu Syar’i Kita dan anak-anak kita akan 
tetap dan senantiasa ditambahkan ilmu, hidayah dan istiqamah di atas ketaatan jika kita beserta keluarga menuntut ilmu syarâ €™i. Hal ini tidak boleh diabaikan dan tidak boleh dianggap remeh. Kita harus selalu bersikap penuh perhatian, serius serta sungguh sungguh dalam menuntut ilmu syar’i. Kita akan tetap berada di atas ash- 

Shiraathal Mustaqiim jika kita selalu belajar ilmu syar’i dan beramal shalih. Jika kita tidak memperhatikan dua hal penting ini, tidak mustahil iman dan Islam kita akan terancam bahaya. Sebab, iman kita akan terus berkurang dikarenakan ketidaktahuan kita tentang Islam dan iman, kufur, syirik, dan dengan sebab banyaknya dosa dan maksiyat yang kita lakukan! Bukankah iman kita jauh lebih berharga daripada hidup ini? 

Dari sekian banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja, berusaha, bisnis, berdagang, kuliah dan lainnya, apakah tidak bisa kita sisihkan sepersepuluhnya untuk hal- hal yang dapat melindungi iman kita? 

Saya tidaklah mengatakan bahwa setiap muslim harus menjadi ulama, membaca kitab-kitab tebal dan menghabiskan waktu belasan atau puluhan tahun untuk usaha tersebut. Namun, minimal setiap muslim harus dapat menyediakan waktunya satu jam saja setiap hari untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang agama Islam. Itulah waktu yang paling sedikit yang harus 
disediakan oleh setiap muslim, baik remaja, pemuda, orang dewasa maupun yang sudah lanjut usia.
Setiap muslim harus memahami esensi ajaran Al- Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pemahaman para Salafush Shalih. Oleh karena itu, ia harus tahu tentang agama Islam dengan dalil dari Al-Qur-an dan As- 

Sunnah sehingga ia dapat mengamalkan Islam ini dengan benar. Tidak banyak waktu yang dituntut untuk memperoleh pengetahuan agama Islam. Jika iman kita lebih berharga dari segalanya, maka tidak sulit bagi kita untuk menyediakan waktu 1 jam (enam puluh menit) untuk belajar tentang Islam setiap hari dari waktu 24 jam (seribu empat ratus empat puluh menit). Ilmu syar’i mempunyai keutamaan yang sangat besar dibandingkan dengan harta yang kita miliki. C. Kemuliaan Ilmu Atas Harta [5] Imam Ibnu Qayyim al- 

Jauziyah (wafat th. 751 H) v menjelaskan perbedaan antara ilmu dengan harta, di antaranya sebagai berikut: 

1. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan orang 
kaya. 

2. Ilmu menjaga pemiliknya, sedang pemilik harta menjaga hartanya. 

3. Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta tidak berkuasa atas ilmu. 

4. Harta bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedangkan ilmu justru bertambah dengan diajarkan. 

5. Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan hartanya, sedangkan ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama para pemiliknya. 

6. Harta bisa didapatkan oleh siapa saja, baik orang beriman, kafir, orang shalih dan orang jahat, sedangkan ilmu yang bermanfaat hanya didapatkan oleh orang yang beriman saja. 

7. Sesungguhnya jiwa menjadi lebih mulia dan bersih dengan mendapatkan ilmu, itulah kesempurnaan diri dan kemuliaannya. Sedangkan harta tidak membersihkan dirinya,tidak pula menambahkan sifat kesempurnaan dirinya, malah jiwanya menjadi berkurang dan kikir dengan mengumpulkan harta dan menginginkannya. Jadi keinginannya kepada ilmu adalah inti kesempurnaan-nya dan keinginannya kepada harta adalah ketidak- sempurnaan dirinya. 

8. Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar seluruh ketaatan, sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar berbagai kesalahan. 

9. Sesungguhnya orang berilmu mengajak manusia kepada Allah Azza wa Jalla dengan ilmunya dan akhlaknya, sedangkan orang kaya mengajak manusia ke Neraka dengan harta dan sikapnya. 

10. Sesungguhnya yang dihasilkan dengan kekayaan harta adalah kelezatan binatang. Jika pemiliknya mencari kelezatan dengan mengumpulkannya, itulah kelezatan ilusi. Jika pemiliknya mengumpulkan dengan mengguna-kannya untuk memenuhi kebutuhan syahwatnya, itulah kelezatan binatang. Sedangkan kelezatan ilmu, ia adalah kelezatan akal plus ruhani yang mirip dengan kelezatan para Malaikat dan kegembiraan mereka. Diantara kedua kelezatan tersebut (kelezatan harta dan ilmu) terdapat perbedaan yang sangat mencolok. 
Seorang muslim harus mengetahui tentang pengertian Islam, karena itu ia harus belajar tentang Islam, definisi, dan inti dari ajarannya yang mulia.

More
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Gema Sholawat Santri - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Edited by Kompi Ajaib
Published by Mas Template Proudly powered by Blogger